Penulis: Erich Fromm

Penerbit: IRCiSoD

Tahun terbit: 2016

Jumlah halaman buku: 303 halaman

Cover buku:

  • Sinopsis:

Dalam buku berjudul bahasa Indonesia Manusia untuk Dirinya Sendiri ini, kita akan disuguhkan berbagai dinamika psikologis antara dunia luar dengan perwatakannya sehingga dia dapat memperoleh kebebasan secara psikologis. Buku ini adalah kelanjutan buku Lari dari Kebebasan yang kita tahu ditulis oleh Erich Fromm, seorang psikoanalisis sekaligus filsuf sosial yang banyak menulis karya-karya hebat seputar psikologi sosial. Karya-karyanya seperti Akar Kekerasan, Perang Dalam Diri Manusia, Gagasan Tentang Manusia, dan tentu saja Lari dari Kebebasan adalah beberapa buku fenomenal yang sudah saya baca.

Man for Himself, judul asli buku ini merupakan karya beliau yang bermaksud menjelaskan lebih dalam keterkaitan antara watak dan dunia luar manusia. Buku ini membahas tiga pokok utama yakni Ilmu Pengetahuan Terapan Seni Hidup, Sifat Dasar dan Watak Manusia, serta Masalah-Masalah Etika Humanistik dan Moral Masa Kini.

Manusia menginginkan realitas yang seperti didambakannya, oleh karena itu dia mulai memanipulasi dunia sekaligus bebas dari kesatuan dunia. Pada masa pencerahan, setiap orang diberitahu untuk mempercayai akal budinya daripada doktrin agama lama sehingga terjadilah relativisme nilai yang membawa manusia pada kebingungan.

Dalam proses menjadi dirinya, etika sangat berkaitan erat dengan hal tersebut. Fromm membagi etika menjadi dua menurut asalnya yakni etika otoritarian dan humanisme. Jika dilihat dari bentuknya, etika dibagi menjadi etika objektif dan etika subjektif. Lalu bagaimana kaitannya?

Etika otoritarian merupakan norma yang dibuat oleh otoritas khusus bagi perilaku manusia, baik dan buruk ada di tangan mereka sedangkan mereka kadang tidak turut melaksanakannya. Etika humanisme, berasal dari manusia dan manusia itu sendiri yang menyusun sekaligus melaksanakannya. Etika otoritarian lebih menekankan perintah sedangkan etika humanisme bersumber pada individu. Namun etika humanisme memunculkan etika yang berlandaskan subjektivisme karena berasal dari masing-masing individu. Walaupun etika otoritarian menghasilkan objektivisme etika, namun pada akhirnya etika akan dibawa pada hedonisme saja karena manusia senantiasa mendekati kebahagiaan dan menjauhi ketidakbahagiaan.

Pada dasarnya etika humanisme adalah sebuah ilmu pengetahuan terapan yang berkaitan juga pada psikoanalisa karena pendekatannya yang tidak relativistik. Hal ini membuat ilmu pengetahuan terapan berkembang seiring dengan perkembangan psikologi juga. Hingga kita akan mengerti bahwa etika sangat dipengaruhi oleh perwatakan manusia.

Sifat Dasar dan Watak Manusia

Sebelum mengetahui watak manusia yang dibahas Fromm dalam buku ini, alangkah baiknya kita membedakan antara apa itu perangai dan watak. Perangai adalah sebuah mode reaksi dan gerak badan yang tidak bisa diubah. Sedangkan pembahasan utama kita yaitu watak, adalah suatu sifat yang dibentuk oleh pengalaman dan sewaktu-waktu dapat berubah jika mendapat pengalaman baru. Setiap watak mempunyai dua proses dalam berinteraksi pada dunia yaitu proses asimilasi yang merupakan interaksi pada objek dan sosialisasi, interaksi terhadap sesama manusia.

Masalah-Masalah Etika Humanistik dan Moral Masa Kini

Kita sering dibenturkan pada dilema antara mencintai diri sendiri atau mencintai orang lain. Mencintai diri dianggap bentuk egoisme sedangkan mencintai orang lain adalah pengorbanan yang melukai jiwa.

Padahal sebenarnya egoisme berbeda dengan mencintai diri dan juga jika seorang sudah mencintai dirinya maka dia akan mencintai orang lain karena hal itu adalah hubungan konjungtif sebagai proses menjadi dirinya sendiri. Permasalahan moral modern ini adalah kita semakin tidak peduli dengan diri sendiri maupun orang lain. Kita dipaksa menjadi komoditas pasar yang harus menyediakan barang dan mengabaikan diri kita serta hubungan kita dengan orang lain.

Dalam buku ini kita diminta menjadi diri kita tanpa membuang hubungan kita dengan dunia. Memaknai produktivitas sebagai cara untuk menjadi diri kita dengan menyalurkan potensi-potensi kepribadian kita sehingga terbentuklah cinta terhadap diri dan dunia kita. Buku ini bagus buat kamu yang ingin memahami diri tanpa harus meninggalkan hubungan dengan dunia luar. Namun sebelum membaca buku ini, alangkah bagus baca buku sebelumnya berjudul Lari Dari Kebebasan agar lebih mengerti konsep diri dari Erich Fromm ini, selamat membaca.

  • Kelebihan buku:

Buku ini bagus buat kamu yang ingin memahami diri tanpa harus meninggalkan hubungan dengan dunia luar.

  • Kekurangan buku:

Buku ini merupakan kelanjutan dari buku Escape from Freedom, yang di dalamnya terdapat analisis pelarian manusia modern dari diri dan kebebasannya. Sebelum membaca buku ini, alangkah bagus untuk membaca buku sebelumnya berjudul Lari Dari Kebebasan agar lebih mengerti konsep diri dari Erich Fromm ini.