Tingkuluak Balapiak

Sejarah dan Asal Usul Tingkuluak Balapak Sungayang merupakan tutup kepala perempuan Minangkabau di daerah Sungayang Kabupaten Tanah Datar. Kenagarian Sungayang memiliki tingkuluak balapak dan tingkuluak bugis sebagai perlengkapan pakaian adat bundo kanduang. Tingkuluak balapak dan tingkuluak bugis adalah perlengkapan pakaian adat bundo kanduang yang di pakai 3 di bagian kepala. Selain kaya akan makna tingkuluak balapak dan tingkuluak bugis juga berperan penting dalam melambangkan kedudukan serta kepribadian bundo kanduang.

Sebagai masyarakat Minangkabau, pengetahuan mengenai bentuk, fungsi dan makna dari tingkuluak sangat diperlukan. Maka sangat disayangkan apabila hal ini terabaikan. Tingkuluak ini terbuat dari kain selendang songket asli daerah Sungayang berwarna coklat kemerahan yang dihiasi oleh benang emas yang ukurannya lebih panjang dari selendang balapak biasa. Berbentuk seperti gonjong atap rumah gadang, persegi panjang pada bahagian atas, ujung kiri kain menutupi kedua ujung tanduk dan ujung sebelah kanan dibiarkan terurai. 

Pakaian tingkuluak balapak dipakai oleh pengantin perempuan dalam pesta pernikahan sederhana tanpa menyembelih sapi. Selain itu, pakaian ini juga dipakai oleh Bako dan pasumandan atau para pengiring pengantin dalam upacara manjalang mintuo (manampuah). upacara adat: sunatan, dan batagak penghulu. Selain itu, Makna dan Filosofi Makna dan Filosofi yang terdapat pada bentuk tingkuluak balapak di kenagarian Sungayang adalah: Bentuk persegi panjang yang terletak di bagian puncak tingkuluak balapak bermaknakan: musyawarah yang adil dan demokrasi yang merata kepada setiap warga dalam kenagarian Sungayang dan bundo kanduang sebagai limpapeh di rumah gadang mengisyaratkan kedudukannya sama dengan datuak atau penghulu Ujung kain sebelah kanan bermakna bahwa: bundo kanduang di kenagarian Sungayang yang memiliki adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, bahwa bundo kanduang diharapkan selalu berbuat hal yang baik yaitu dengan tangan kanan.

 Penutup dahi Ini bermaknakan: bahwa bundo kanduang harus menutupi segala hal yang terjadi dan tetap terlihat tenang di depan kaumnya walaupun sebenarnya di rumah gadang sedang terjadi masalah. Penutup sanggul yang bermaknakan: bundo kanduang yang mengetahui bahwa rambut sebagai aurat yang mesti ditutupi. Bundo kanduang harus menjadi contoh bagi kaum perempuan di sukunya.

Bentuk dan Motif Bentuk Motif pada Tingkuluak Balapak di Kenagarian Sungayang : Sumber dari Flora : Biteh Kaluak Sumber dari Fauna : motif cukia Ulek/Ulek Tantadu dan Ulek Baserak. Sumber geometris : motif Kali-Kali, Saik Ajik/Kalamai, Liris, Barantai Merah, dan Gobah Musajik. 

Tingkuluak adalah salah satu jenis pakaian adat perempuan di Minangkabau. Aneka ragam nama dan bentuk tingkuluak berbeda di berbagai daerah meskipun ada juga yang sama.  Misalnya, tingkuluak tanduak, tingkuluak kain balapak, tingkuluak Baradai ameh, tingkuluak Basarang gombak, dan lain sebagainya. Pakaian ini biasa dipakai oleh seorang perempuan Minang dalam acara adat tertentu. Tingkuluak adalah lambang mahkota adat bagi perempuan karena mengandung makna filosofis yang tinggi. Apa makna Filosofis nya?

Berbagai referensi seperti yang pernah ditulis oleh Boestami (1980) bahwa tingkuluak memiliki makna ‘kepemilikan’ bagi seorang perempuan Minang. Disisi lain, Jumhari (2009) pernah juga menulis tentang arti dan eksistensi pakaian perempuan Minang ini. Intinya tingkuluak adalah sebuah lambang yang memiliki multi dimensi. Dianya bermakna sesuai dengan pemakainya. Yaa…sebuah filosofis yang sangat berarti.

makna filosofis tingkuluak ini. Pertama, tingkuluak berarti ‘lambang memiliki’ untuk sebuah harta pusaka.  Tingkuluak, karena begitu berharganya selalu diletakkan diatas kepala. Jika ada yang meletakkannya di bahu maka dia bukan tingkuluak lagi tetapi selendang.

 Kedua, bentuk nya yang runcing bermakna ‘semangat yang tak pernah pudar.’ Selalu optimis dalam menyikapi berbagai persoalan hidup. Ketiga, tingkuluak bermakna ‘keseimbangan’ karena dia selalu berukuran sama jika ada dua bentuknya yang serupa. Keseimbangan perlu ditanamkan dalam hidup. Kita harus bersikap adil.

Keeempat, diujung tingkuluak terletak ujung yang tumpul walau sedikit. Artinya, meskipun ‘tajam’ tetapi tidak pernah ‘melukai.’ Kerendahan hati dan sifat tawaduk harus selalu dijunjung tinggi meskipun memiliki  ilmu dan harta yang berlimpah. Kelima, tingkuluak bermakna ‘tanggung jawab’ karena di kepala itu letaknya semua ‘tanggung jawab’ tersebut. Seluruh persoalan akan selesai dengan kepala dingin bukan dengan sikap emosional dan anarkis.

Nenek moyang orang Minangkabau sudah ratusan tahun yang lalu menanamkan nilai kearifan lokal untuk kita teladani Semuanya diatur sesuai dengan tatanan kehidupan dan berdasarkan pada pengalaman empiris yang sudah berkali kali. Makna filosofis itu muncul setelah upaya ‘perenungan’ bertahun tahun oleh cadiak pandai kita pada zaman dahulu.

Jika kita dapatkan pemimpin yang bersifat seperti makna filosofis tingkuluak ini tentu setiap daerah akan maju karena sudah ada sifat sifat yg baik dari calon pemimpin tersebut. Jika kita tidak percaya juga, haruskah kita pilih terlebih dahulu orang yang memakai tingkuluak itu untuk jadi pemimpin kita? Jika itu memang sebuah ‘keharusan’ untuk kebaikan bersama, mengapa tidak?