Penulis : Akhmad Muhaimin Azzet
Penerbit : AR-RUZZ MEDIA
Tahun terbit : 2011
Jumlah halaman : 100 Halaman
Cover buku :

- Sinopsis:
Buku dengan ukuran 14 cm x 21 cm karya Akhmad Muhaimin Azzet ini tergolong sangat inspiratif dan dapat menginspirasi bagi siapa saja yang sedang berhubungan langsung dengan dunia Pendidikan seperti, guru, dosen, mahasiswa, pelajar, bahakan orang tua. Tidak hanya
itu, muatan-muatan teori pendidikan radikal yang secara garis besar berpegang pada teori Paulo Freire, yang ditulis secara lugas dalam buku ini mampu membuka mata pembacanya tentang kondisi pendidikan saat ini dan bagaimana seharusnya pendidikan menurut Paulo Freire. Buku ini sangat cocok untuk aktifis-aktifis yang sedang bergulat dengan persoalan-persoalan pendidikan di Indonesia, mereka-mereka yang memiliki pemahaman yang sama bahwa pendidikan itu seharusnya membebaskan. Secara garis besar buku ini mengungkap beberapa kekeliruan sistem pendidikan yang sudah dianggap lumrah sampai saat ini, dengan memberikan gambaran bagaimana pendidikan yang seharusnya, yang dikenal dengan pendidikan yang membebaskan. Sederet fakta-fakta menarik bahkan mencengangkan dikemas dengan bahasa yang renyah dan mudah dimengerti oleh pembacanya, plus contoh-contoh yang begitu sering kita temui dalam pendidikan ada dalam buku ini. Ketika membaca buku ini, pembaca diajak untuk mengenal Paulo Freire, seorang filsuf dan ahli pendidikan yang sangat getol memperjuangkan
gagasannya yaitu pendidikan yang membebaskan, dimana Pendidikan harus menjadi cara untuk membebaskan peserta didik dari segala macam Penulisan Artikel Ilmiah: Tuntunan bagi Mahasiswa bentuk penjajahan. Secara gamblangnya, pendidikan yang mendidik menjadikan manusia mempunyai hak yang sama dalam pendidikan. Beberapa konsep salah kaprah yang sudah turun-temurun diterapkan dalam pendidikan kita dibahas satu persatu, dimulai dari konsep pendidikan yang digambarkan dengan mengisi gelas kosong, pengaburan sejarah dalam pendidikan yang sengja dilakukan oleh orang-orang yang memegang kekuasaan dalam politik, anggapan bahwa peserta didik yang mendebat gurunya dinilai tidak sopan, konsep pendidikan yang hanya berorientasi kepada kebutuhan pasar yang menjadikan peserta didik tak ubahnya robot, dll.
Salah satu kalimat menarik dalam buku ini terdapat di halaman 65 yang berbunyi “Pendidikan anak, sampai pendidikan pascasarjana, sebaiknya membangun kemampuan berpikir sendiri dan berani tidak setuju, termasuk tidak setuju kepada guru.” Konsep Paulo Freire mengajarkan kita untuk berani tidak setuju, berani kritis, namun tetap menghormati perbedaan pendapat, bahakan seorang peserta didik diperbolehkan untuk berbeda pendapat dengan gurunya, karena dalam konsepnya guru bukan seseorang yang mencerca peserta didik dengan segala ilmu yang dikuasai, melaikan menjadi pendamping peserta didik dalam memilih mana yang ia senangi dan mana yang ingin ia pelajari.
Terakhir, dalam buku ini penulis mengutip penggalan novel berjudul Totto-Chan sebagai penggambaran nyata bagaimana jika pendidikan yang membebaskan ini benar-benar diterapkan kemudian dibandingkan dengan pendidikan yang sudah sejauh ini ada. Bisa dibilang sulit menemukan kekurangan dalam buku ini, karena selain gaya Bahasa yang mudah untuk dipahami, juga kesan lugas ketika mengungkap fakta-fakta yang ada, selain itu buku ini tidak banyak menggunakan istilah-istilah yang sulit dimengerti. Akhir kata, semoga pendidikan yang membebaskan tak hanya diterima tapi juga bisa diterapkan
- Kelebihan buku:
Pada buku ini penulis telah menjabarkan secara runtut dengan bahasa yang cukup mudah untuk mempelajari tentang apa dan bagaimana pendidikan yang membebaskan menjadi sesuatu yang dapat diciptakan.
- Kekurangan buku:
Jika buku ini diberi gambar sebagai media penjelas mungkin akan lebih mudah bagi para pembaca untuk memahaminya.
