Pacu Jawi

Pacu Jawi adalah perlombaan olahraga tradisional di Kabupaten Tanah DatarSumatera BaratIndonesia. Dalam acara ini, sepasang sapi berlari di lintasan sawah berlumpur dengan panjang sekitar 60–250 meter, sementara seorang joki berdiri di belakangnya dengan memegang kedua sapi. Penduduk Tanah Datar (terutama dari empat kecamatan yaitu Sungai TarabParianganLima Kaum, dan Rambatan) telah menyelenggarakan acara ini selama berabad-abad untuk merayakan masa panen padi. Acara ini juga diiringi pesta desa dan budaya yang disebut alek pacu jawi

Pacu jawi diadakan di Kabupaten Tanah DatarSumatera Barat, Indonesia.[2] Menurut adat, salah satu syarat daerah penyelenggara pacu jawi adalah Gunung Marapi harus terlihat jelas.[2] Gunung setinggi 2.891 meter ini konon adalah asal orang Minangkabau yang kini mendiami Sumatera Barat.[2] Warga setempat yang kebanyakan berlatar belakang petani, menyelenggarakan acara ini saat sawah sudah kosong setelah dipanen dan sebelum penanaman selanjutnya.[2] Lokasinya berganti-ganti antara berbagai nagari (daerah setingkat desa atau kelurahan) di Tanah Datar.[2] Nagari-nagari ini berada di empat kecamatan yang secara adat merupakan penyelenggara pacu jawi, yaitu Sungai TarabParianganLima Kaum, dan Rambatan.[2][3]:2 Keempat kecamatan ini terdiri dari 26 nagari (pada 2014) dengan ketinggian antara 550–700 meter, total sawah 96,16 km² dan lebih dari 12.000 sapi (data tahun 2012)

Tidak ada pemenang yang dinyatakan secara resmi, tetapi penonton umumnya menilai sapi-sapi ini berdasarkan kecepatan, kekuatan, dan kemampuan berlari lurus. Menurut tradisi, kemampuan berlari lurus ini penting untuk mengajarkan filosofi bahwa yang paling dapat dihargai, bukan hanya untuk sapi tetapi untuk manusia, adalah yang dapat mengikuti jalan yang lurus (Minang: luruih). Memiliki sapi yang dianggap tangkas dalam pacu jawi adalah sumber kebanggaan bagi warga setempat. Selain itu, sapi-sapi yang dinilai baik oleh penonton dapat meningkatkan nilai jualnya hingga dua atau tiga kali lipat harga biasa. Keuntungan finansial ini adalah salah satu motivasi penting untuk para peserta

  1.  “Pacu Jawi”, Cultural Heritage, Ministry of Education and Culture of Indonesia, 2020
  2. Febrianti (2013). “Pacu Jawi: Berlari mengejar harga tinggi”. Dalam Rita Nariswari et. al. Atraksi Budaya Nusantara. Pusat Data dan Analisis Tempo.
  3.  Suzanti, Purnama (2014). “Daya tarik Pacu Jawi sebagai atraksi wisata budaya di Kabupaten Tanah Datar”. Jurnal Nasional Pariwisata. Yogyakarta: Tourism Study Center, Gadjah Mada University. doi:10.22146/jnp.6869. ISSN 1411-9862.
  4. “Wet and wild: Indonesia mud bull races not for faint of heart”. Gulf News. 2018-12-04.
  5. Theodore Salim (2018-09-07). “Padang: Pacu Jawi Festival”. TravelBlog. Expedia.
  6. ^ Lompat ke:a b c Budhiana, Nyoman (2011-10-02). Nyoman Budhiana, ed. “Sapi Hias Dilombakan di “Alek Pacu Jawi. ANTARA News. Antara.
  7. ^ “Joy at the end of the run: Sports Action, first price singles”. World Press 2013 Photo Contest. World Press Photo. 2013.
  8. ^ “Digital Camera Photographer of the Year 2009 winners”. The Telegraph. 2009.